KATA LOGIKA - Mengetahui informasi budaya suatu wilayah atau daerah maka dapat membuka wawasan kita untuk menganalisis budaya yang sedang berkembang atau dianut oleh/dalam masyarakat pada masanya.
Pada zaman Jawa Kuno terdapat banyak nama-nama hantu yang hampir tidak pernah kita dengar pada masa sekarang ini, bahkan ilustrasi gambar Hantu tersebut terdapat pada relief dinding candi-candi yang berada di wilayah pulau Jawa dan dituliskan dalam beberapa manuskrip kitab Jawa Kuno.
Dalam hal ini hantu dinyatakan sebagai produk budaya pada masanya, dalam masyarakat Jawa Kuno mempercayai bahwa hantu memiliki daya negatif yang mampu untuk kematian lewat bencana, pandemi, wabah dan penyakit penyakit bahkan sampai membuat orang gila, nama hantu yang membuat orang gila adalah : Hantu Kalika tangan kanan Durga yang pernah merasuki dan membuat gila Dewi Kunti.
Baca Juga: Waduh! Amerika Latihan Perang Dengan Taiwan, China Meradang Langsung Mau Rudal Taiwan
Dalam masyarakat Jawa Kuno menyatakan ada dua versi hantu, yang pertama hantu yang tercipta sebagai hantu, contoh: hantu yang tercipta dari hasil yoga Bathara Guru dan Dewi Uma, yang kedua hantu yang berasal dari manusia yang sedang menjalani kutukan dan setelah di ruwat berubah menjadi manusia kembali (laki-laki ataupun perempuan normal), contohnya : setelah diruwat oleh Sadewa (Sena/Bima), Bathari Durga (Dewi Uma) dan seluruh pasukannya berubah kembali menjadi manusia biasa, menurut Kidung Sudamala.
Tujuan dan kegunaan para hantu pada Zaman Jawa Kuno : untuk melegitimasi keputusan raja agar ditaati oleh masyarakat, jika tidak ditaati maka disinyalir akan medatangkan kutukan bagi masyarakat yang melanggar.
Beberapa nama hantu yang ditulis dalam naskah 'Kakawin Sena' sebagai berikut :
Butha Dengen, memiliki, wujud tidak memiliki suara seperti burung malam.
Banaspati, Kamangmang dan Badalungan dalam wujud kepala berapi.
Tengis, Tetekan, Tongtongsot, Gegembung, Balung, Usus, adalah hantu yang menyerupai potongan-potongan bagian tubuh manusia.
Tendas buntit (hantu kepala) danTatangan (hantu tangan) terdapat pada ukiran relief Candi Sukuh di Karang Anyar, Jawa Tengah.
Hanja Sirah (hantu kepala penghisap darah), Wewedon (hantu berwujud kain putih).
Jejengklek dan Gandarwo (hantu dengan rambut terurai).
Bajang langka (hantu anak kecil), Popoting Komara (hantu pusar bayi), Bajangkrek (hantu bangkai bayi).
Hencok, Huci-huci dan Kukuk Bawil (hantu burung yang muncul bersama hantu Butha Dengen) .
Laweyan (hantu tanpa kepala yang berlubang).
Baca Juga: Johnny Depp Menangkan Kasus KDRT, Profil Vanessa Paradis Disorot
Menurut sejarah Amerika kelahiran Australia Prof. Merle Calvin Ricklefs, Ph.D. (1943-2019)
dalam buku sejarah Asia Tenggara dari masa prasejarah sampai masa kotemporer menyebut Asia Tenggara sebagai dunia lelembut, serta membagi makhluk halus ke dalam tiga kelompok, berdasarkan budaya bangsa Austronesia :
1.Sebagai 'penunggu' yang mendiami sungai, gunung, hutan, pohon, goa, dll.
2.Sebagai 'arwah leluhur' untuk dipuja.
3.Sebagai 'pelindung' yang menjaga seperti keluarga, desa, kota dan negara.
Dalam perkembangan masyarakat zaman modern saat ini nama hantu banyak berubah dengan sebutan: jin, hantu suster ngesot, kuntilanak, genderuwo, tuyul, sundel bolong, dll.***
Artikel Terkait
Puasa Supranatural 40 Hari 40 Malam Tanpa Makan dan Minum, Siapa yang Dapat Lakukan?
Dianggap Terlalu Rasis, Penelitian Ini Akhirnya Kena Gugatan
Peneliti China Prediksi Tahun 2050 Terjadi Kelangkaan Air Tanah dan Kerusakan Tanaman 80 % di Seluruh Dunia
Survei Elektabilitas PSI: Golkar Meroket, Demokrat Kritis, PKB Tenggelam
Kesadaran Eksistensial Berindonesia